Sabtu, 23 November 2013
SOSIOLOGI AGAMA
Dian Andriani
1113051000185
KPI 1 D
1.
Sakral,
Kudus dan Suci
Sakral, Kudus dan Suci
menurut Agama Yahudi
Menurut
Agama Yahudi, Sakral Kudus dan Suci adalah dasar suatu sistem undang-undang
agama dan moral yang memiliki aspek positif dan negatif. Aspek Positifnya
adalah berpegang teguh kepada kepercayaan dan peribadatan yang telah diwahyukan
Tuhan kepada mereka. Di dalam Agama Yahudi, mereka menganggap suci Tuhan mereka
yang biasa disebut dengan Yehovah, dengan kitab sucinya Taurat. Selain itu,
mereka juga menganggap suci patung-patung dan binatang tertentu.
Umat
Yahudi juga memiliki hari-hari yang mereka anggap suci seperti Hari Bulan Baru,
Hari Paskah dan Hari Pondok Raya. Dan aspek Negatifnya, umat Yahudi disini
dituntut untuk meninggalkan keberhalaan. Hal ini menjadi salah satu perintah
yang amat sulit untuk mereka laksanakan sehingga menjadi aspek Negatif di dalam
kesucian itu sendiri.
Sakral, Kudus dan Suci
menurut Agama Kristen
Menurut Agama Kristen,
ada Salib yang yang selalu dianggap suci oleh umat Nasrani. Mereka menuturkan
salib suci bagi umat Nasrani ini sekilas hanyalah dua batang kayu yang
dipersilangkan dan pada akhirnya menjadi sesuatu yang amat dijunjung tinggi dan
dianggap sebagai perwujudan sesuatu yang sacral atau suci. Dalam Kristen, fakta
memegang peranan penting yang menjadikan fakta sebagai landasan agama.
Bagi seorang Kristen
semuanya tergantung pada Inkarnasi Kristus dan Penebusan-Nya. Dalam Kristus
telah terserap segala-galanya, bahkan juga paham tentang Asas Ilahi, yang
muncul dalam bentuk aspek Tritunggal Yang Mahakudus, serta kemanusiaan yang
menjadi Tubuh Mistik-Nya yang menderita dan kemudian bangkit kembali. Paham
Tuhan menjadi Manusia adalah pusat ajaran Kristen. Putra, yaitu Pribadi kedua
dari Tritunggal yang Mahakudus adalah manusia universal. Sedangkan Yesus
Kristus adalah Tuhan yang mempribadi.
Sakral, Kudus dan Suci
menurut Agama Islam
Dari
kedua Agama diatas, Agama Islam pengutarakan pengertian dari Sakral, Kudus dan
Suci ini dengan sedikit berbeda. Di dalam Agama Islam, umat Islam mengenal kata
“Fitrah” yang berarti Kembali, Kembali disini dimaksudkan kepada kesucian diri.
Bagi seorang pemeluk Agama Islam, semua berpusat kepada Allah SWT, Asas Ilahi
yang termasuk dalam aspek Keesaan, dan dalam keadaan menyesuaikan diri atau
menyerahkan diri kepada-Nya. Masih banyak hal-hal yang dianggap suci seperti
Al-Quran, Masjid dan yang lainnya.
Pada
hakikatnya, kata Sakral, Kudus dan Suci ini memiliki tata cara yang berbeda
penyebutannya dalam Agama Islam. Seperti kata Sholat dalam Agama Islam dan kata
Sembahyang yang biasa disebutkan di agama-agama non Islam. Bila dicermati, dua
kata tersebut memiliki arti yang sama-sama berhubungan dengan kesucian dan
kesakralan dalam beribadah yang hanya berbeda pada penyebutannya saja.
2.
Ritual
Keagamaan
Ritual Keagamaan Agama
Yahudi
Agama
Yahudi menyebut ritual peribadatan itu sendiri sebagai bukti bahwa mereka
memiliki kepercayaan dan sesuatu yang dianggap suci atau sakral. Doa dan shalat merupakan ibadah utama umat Yahudi yang
sangat penting, dilakukan dengan berjamaah atau sendirian didalam Baitul Maqdis
dan di masjid-masjid yang disebut dengan Synagog. Mereka melakukan shalat tiga
kali sehari, pada jam 9 pagi, 12 siang dan 3 sore kemudian berdoa sambil
berdiri dan mengangkat tangan kelangit.
Agama Yahudi juga mengajarkan adanya dua sakramen, yakni bersunat,
mengganti nama dengan upacara pembaptisan di Gereja dan Upacara Paskah. Upacara
agama bagi orang-orang Yahudi dapat disebut yaitu:
a. Korban pengampunan dilaksanakan pada hari
pengampunan besar
b. Puasa dilakukan oleh umat yahudi pada hari
pengampunan besar sebagai puasa wajib
Selain itu
juga terdapat upacara pantekosta dirayakan lima puluh hari setelah paskah,
sebagai persembahan korban panen kepada tuhan untuk ucapan rasa syukur atas
nikmat dan karunia-Nya.
Kemudian
Yahudi juga mempunyai ritual penyucian yang dilakukan bagi orang yang bernajis
karena menjamah mayat, memakan binatang haram, berpenyakit kusta, dan karena
melahirkan bayi perempuan.
Ritual
Keagamaan Agama Kristen
Di dalam Agama Kristen,
umat Nasrani mengenal “Ritus” atau Ibadat sebagai suatu hal yang mencakup semua
jenis tingkah laku dalam tata cara penghormatan kepada yang suci seperti
memakai pakaian khusus dan menyanyikan lagu-lagu khusus.
Selain itu, umat
Nasrani juga melakukan ritual:
a. Baptis
Baptis
atau Pembaptisan dikenal sebagai ritual umat Nasrani dalam pembersihan dosa. Baptis juga melambangkan
kematian bersama Yesus. Dengan masuk ke dalam air, orang yang dibaptiskan itu
dilambangkan telah mati. Ketika ia keluar lagi dari air, hal itu digambarkan
sebagai kebangkitannya kembali.
b.
Paskah
Paskah identik dengan
Yesus, yang oleh Paulus disebut sebagai "anak domba Paskah", jemaat Kristen hingga saat ini percaya
bahwa Yesus disalibkan, mati dan dikuburkan, dan pada hari yang ketiga bangkit
dari antara orang mati.
c. Kebaktian
Subuh
Kebaktian
Subuh ini dipraktekkan oleh Gereja Protestan dan sama seperti Kebaktian Paskah
yang dijalankan pengikut Katolik Roma, Ortodoks Timur, Anglikan dan Lutheran.
Kebaktian ini dilakukan di luar ruangan, biasanya di taman.
d. Kalender
Liturgis
Kristen protestan mengatur
ibadah dalam jadwal kalender liturgis. Hal ini termasuk hari-hari suci misalnya
hari perenungan yang memperingati sebuah kejadian didalam hidup Yesus Kristus,
hari-hari puasa, atau perayaan-perayaan biasa seperti memperingati orang-orang
kudus.
Ritual Keagamaan Agama
Islam
Islam memiliki pengertian
sendiri dalam mengartikan peribadatan ritual. Ada banyak tata cara melakukan
peribadatan ritual di dalam Islam kita mengenal Solat, Puasa, Zakat dan Ibadah
Haji.
Selain dari ritual diatas,
Islam juga melakukan sholawatan, yaitu sebuah pembacaan bait-bait kalimat yang
dilafazkan dengan setengah bernyanyi dan suara melengking, diiringi dengan
tabuhan trebang dan kendang sebagai alat musiknya. Ritual ini dilakukan pada
orang yang sedang ada hajatan, seperti; Sunatan, Mitung Mbengi dan lain-lain.
Agama
Islam sendiri memiliki bulan suci yaitu bulan Ramadhan. Yang adalah bulan
kesembilan di dalam penanggalan Hijriyah (Sistem penanggalan Agama Islam).
Sepanjang
bulan ini pemeluk agama Islam melakukan serangkaian aktivitas keagamaan
termasuk di dalamnya berpuasa, salat tarawih, peringatan turunnya Alquran,
mencari malam Laylatul Qadar, memperbanyak membaca Alquran dan kemudian
mengakhirinya dengan membayar zakat fitrah dan rangkaian perayaan Idul Fitri.
3.
Apakah fungsi Agama memungkinkan masyarakat berkonflik dan
melakukan tindak kekerasan atas nama Agama?
Fungsi Agama dapat menciptakan permasalahan dalam bermasyarakat.
Karena faktor-faktor internal seperti tidak bergesernya model pemahaman ajaran
agama yang bersifat eksklusif dan berorientasi ideologis dan kurangnya kaum
elit agama menjembatani dialog-dialog keagamaan secara terbuka dan insklusif.
Konflik itu antara lain:
1) Konflik ideologis yang bersifat intrinsik yang muncul dari
adanya kebencian yang dalam terhadap nilai-nilai kelompok lain.
2) Sistem stratifikasi sosial dan menguatnya stabilitas status
berubahnya yang cenderung memperkuat hubungan antara individu-individu dan
kelompok-kelompok yang semula berstatus tinggi sekarang berstatus terkucil.
3) Persaingan meraih kekuasaan politik yang makin tajam dalam
rangka mengisi kekosongan pemerintahan setelah ditinggalkan penjajah, sehingga
hal ini meningkatkan perbedaan-perbedaan keagamaan dengan signifikansi politik.
4) Adanya pengambinghitaman terhadap mereka yang memicu
ketegangan-ketegangan yang disebabkan oleh berubahnya sistem sosial yang cepat.
Dalam konteks masyarakat Indonesia, konflik agama sering lahir
akibat konflik-konflik ideologis dan politik yang kemudian menjalar ke konflik
agama. Dalam banyak hal, agama menjadi mata rantai terakhir konflik karena
dalam struktur masyarakat Indonesia, agama menjadi dasar psikologi sehingga
sangat sensitif terhadap konflik. Kondisi semacam ini, ditopang oleh maraknya
alira-aliran sempit baik yang mengejawantah dalam bentuk partai politik,
organisasi-organisasi maupun asosiasi.
Dan juga, ada pula sumber-sumber konflik yang bersumber dari
Agama. Contohnya:
a. Perbedaan Doktrin dan Sikap Mental
Setiap pihak mempunyai gambaran tentang ajaran agamanya, membandingkan
dengan ajaran agama lain, memberikan penilaian atas agama sendiri dan agama
lainnya. Dalam skala perbandingan yang dibuat (subyektif) nilai tertinggi
selalu diberikan kepada agamanya sendiri dan agamanya sendiri selalu dijadikan
patokan, sedangkan agama lain dinilai menurut patokan tersebut.
Contohnya di beberapa tempat terjadinya kerusuhan kelompok
masyarakat Islam dari aliran Sunni atau Santri. Kelompok ini begitu agresif,
kurang toleran dan terkadang fanatic dan malah menganut garis keras. Karena
itu, factor perbedaan doktrin dan sikap mental mempunyai andil sebagai pemicu
konflik.
b. Perbedaan Suku dan Ras Pemeluk Agama
Perbedaan suku dan ras ditambah perbedaan agama menjadi penyebab
lebih kuat untuk menimbulkan perpecahan antar kelompok dalam masyarakat. Di
beberapa tempat yang terjadi kerusuhan seperti: Situbondo, Tasikmalaya dan
Rengasdengklok, massa yang mengamuk adalah penduduk setempat dari Suku Madura
di Jawa Timur dan Suku Sunda di Jawa Barat. Sedangkan yang menjadi korban
keganasan massa adalah kelompok pendatang yang umumnya dari Suku non Jawa dan
Suku Tionghoa. Nampaknya, perbedaan suku dan ras disertai perbedaan agama ikut
memicu terjadinya konflik.
c. Perbedaan Tingkat Kebudayaan
Agama sebagai bagian dari budaya bangsa manusia. Kenyataan
membuktikan perbedaan budaya berbagai bangsa di dunia tidaklah sama. Secara
sederhana dapat dibedakan dua kategori budaya dalam masyarakat, yakni budaya
masyarakat dan budaya modern. Perbedaan budaya dalam kelompok masyarakat yang
berbeda agama di suatu tempat atau daerah ternyata sebagai factor pendorong
yang ikut mempengaruhi terciptanya konflik antar kelompok agama di Indonesia.
d. Masalah Mayoritas dan Minoritas Golongan Agama
Fenomena konflik sosial mempunyai aneka penyebab. Tetapi dalam masyarakat
agama pluralitas penyebab terdekat adalah masalah mayoritas dan minoritas
golongan agama. Di berbagai tempat terjadinya konflik, misalnya, massa yang
mengamuk adalah yang beragama Islam sebagai kelompok mayoritas; sedangkan
kelompok yang ditekan dan mengalami kerugian adalah orang Kristen yang
minoritas di Indonesia.
Referensi:
O’dea,
Thomas F. 1995.Sosiologi Agama. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Ali MA,
Prof.Dr.H.Abdullah. 2007. Agama
Dalam Ilmu Perbandingan. Nuansa Aulia.
Schuon,
Frithjof. 1987. Mencari Titik Temu
Agama-Agama. Pustaka Firdaus
MAKALAH AKHLAK TASAWUF MAQAMAT DAN HAL
MAKALAH AKHLAK TASAWUF
MAQAMAT DAN HAL
Kelas Komunikasi Penyiaran Islam 1D
Disusun oleh:
1.
Muchlis Santri Diputra
2.
Dian Andriani
3.
HakikiTertiariHiriawan
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
TAHUN
2013
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirobbil’alamin Puji syukur kami
panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat Rahmat dan Hidayah-Nya saya
dapat menyusun menyelesaikan Makalah Akhlak Tasawuf.
Makalah ini dibuat guna
memenuhi tugas yang di berikan oleh pengajar, penulis tidak lepas dari bantuan
berbagai pihak khususnya para pembimbing dan sahabat. Pada kesempatan ini
penulis ucapkan terimakasih banyak kepada:
1.
Allah SWT.
2.
Teman-teman yang turut
memberikan bantuan semangat dalam menyelesaikan makalah ini.
Sebagai manusia biasa, kesalahan dan
kekurangan terhimpun pada diri penulis dalam menyusun Makalah ini. Dengan
segala kerendahan hati, penulis menerima kritik dan saran
Langganan:
Postingan (Atom)

